Guru Mata Pelajaran PAK dan BP Pada SD NEGERI BILUA DESA OEBAKI KECAMATAN NOEBEBA KAB.TTS PROV.NTT
Selasa, 25 April 2023
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI- NILAI
KEBIJAKAN SEBAGAI PEMIMPIN Oleh CGP Angk. 7 Kab. TTS Prov. NTT Imelda Kefi SD
Negeri Bilua
Salam dan bahagia ibu Fasilitator dan teman-teman guru hebat....
Saya mengawali koneksi antar materi ini dengan kalimat bijak di bawah ini :
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”. Sekolah sebagai institusi moral memiliki peran untuk mendorong berkembangnya budaya,nilai dan moral setiap siswa.Hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa para murid terlebih dahulu memiliki dua kodrat yaitu kodrat alam dan kodrat zaman . Karena itu sebagai pemimpin dalam sekolah (kepala sekolah) memiliki peran dan tanggung jawab untuk mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang diambil seyogyanya bertitik tolak pada keberpihakan terhadap murid , nilai-nilai universal dan tanggung jawab. Ketika berhadapan dengan situasi dilema etis maka sebagai kepala sekolah diharapakan memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang akan berdampak pada kebaikan,ketaatan dan keteladanan semua warga warga.
“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia berperilaku etis”. Kalimat bijak ini memberi dasar,motivasi dan spirit bahwa tujuan pendidikan semata-mata tidak membentuk intelektual murid tetapi juga membentuk karakter moral dan etis . Tujuannnya agar supaya murid dapat memilah dan memilih saring dan sharing mana yang baik dan yang tidak baik, pantas atau tidak pantas untuk dilakukan.
Relevansi filosofi Ki Hajar Dewantara dan pratab Triloka bagi seorang pemimpin dalam penerapan pengambilan keputusan yaitu :
1. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran , guru harus pertama-tama berfokus pada kebutuhan murid bukan pada dirinya sendiri.
2. Dalam menghadapi masalah yang terkait dengan kebutuhan murid maka keputusan yang diambil sekalipun tetap harus berpihak pada murid
3. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus berdiri diatas nilai-nilai universal.
4. Setiap keputusan yang diambil harus mampu dipertanggungjawabkan baik secara etis moral amaupun secara kelembagaan.
Sebagai pemimpin pembelajaran harus ada dalam sebuah kesadaran bahwa dalam pengambilan sebuah keputusan tidak mudah seperti yang dibayangkan ada pertaruhan antara nila-nilai dalam diri dan nilai-nilai kebijakan universal. Karena itu sebagai pemimpin pembelajaran kejelian,ketepatan, analisis dan refleksi harus terbangun secara baik sehingga keputusan yang nantinya diambil akan bermuara pada prinsip dan nilai universal yang pada akhirnya dapat meminimalisir resiko negatif sebuah pengambilan keputusan.
Sangat disadari bahwa sebagai pemimpin pembelajaran mengambil sebuah keputusan tidaklah mudah, oleh karena ada konsekuensi-konsekuensi sekaligus pertanyaan-pertanyaan reflektif yang harus dilakukan secara kontinue. Untuk itu teknik coaching dengan menggunakan alur TIRTA sangat menolong karena di dalamnya pemimpin pembelajaran akan menemukan solusi atas sebuah keputusan etis yang telah diambil. Artinyan bahwa teknik coaching menolong pemimpin pembelajaran untuk tidak cepat merasa puas atas keputusan yang diambil.
Ketika seorang guru berhadapan dengan permasalahan dilema etis maka untuk menghasilakan sebuah keputusan yang bijak (berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal) ,berpihak pada murid dan bertanggungjawab, maka seorang guru sangat penting melatih bagaimana mengelola kondisi emosional diri sendiri (KSE). Dengan demikian KSE yang dimiliki oleh guru akan berimplikasi positif terhadap sosial emosional murid.
Sebagai pendidik harus paham bahwa dilema etis tersebut selalu terkait erat dengan masalah moral-etis. Karena itu dalam berhadapan dengan kasus moral –etis nilai kebajikan universal harus dimunculkan dari dalam diri seorang pendidik untuk dipakai dalam menganalisis sebuah kasus. Sehingga keputusan yang akan dihasilkan berdampak positif bagi warga sekolah. Seorang pemimpin pembelajaran harus yakin bahwa sebuah keputusan yang diambil secara tepat akan berkontribusi pada tercipta suasana ekosistem pembelajaran yang baik pula. Sebuah keputusan sebaik apapun tetap memiliki resiko yang didapat dari lingkungan sekitar, hal ini dikarenakan setiap keputusan yang diambil tidak mungkin dapat menjawab semua permasalahan sekaligus memenuhi kepuasaan atau harapan banyak orang pula. Perbedaan- perbedaan adalah faktor-faktor yang biasanya mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap sebuah keputusan.
Sebagai pemimpin pembelajaran harus menyadari bahwa setiap murid memiliki latar belakang yang berbeda. Karena itu dalam proses pengambilan keputusan mengenai pembelajaran di dalam kelas haruslah pembelajaran yang berfokus pada kemerdekaan murid dalam belajar. Hal ini dapat tercapai manakala pemimpin pembelajaran membuat proses pembelajaran berdiferensiasi yang diharapakan dapat menjawab kebutuhan belajar murid sehingga mereka menemukan iklim kemerdekaan dalam belajar. Masa depan para murid untuk mencapai cita-cita adalah proses yang harus dipersiapkan dengan matang. Apa yang diajarkan oleh seorang guru di awal akan menjadi modal (jaminan) terhadap pencapaian cita-cita seorang murid di masa depan. Artinya bahwa setiap pelajaran harus diarahkan sesuai dengan minat atau bakat (kebutuhan belajar) murid itu sendiri. Pada akhirnya para murid sejak awal telah terbekali dan terbentuk dengan ilmu yang sesuai karakter dirinya.
Bagi saya modul- modul yang telah dipelajari memiliki karakteristiknya tersendiri akan tetapi memiliki korelasi yang kuat antara satu dengan yang lain. Saya menemukan setiap materi dalam modul saling mengisi terhadap satu dengan yang lain. Memiliki kesinambungan yang pada akhirnya membentuk karakter kepemimpinan pemimpin pembelajaran baik itu dalam memetakan sebuah masalah, menganalisis, dan mengambil sebuah keputusan yang semuanya bermuara pada keberpihakan kepada murid. Bagi saya dengan mempelajari modul 3.1 ini sesungguhnya telah membuat saya menyadari bahwa ada kekeliruan dalam pengambilan keputusan yang pernah saya ambil sebelumnya. Modul ini telah memberikan kepada saya sebuah jalan untuk bagaimana sebuah keputusan itu dapat diambil secara bijak. Dalam pengalaman terdahulu saya pernah diperhadapkan dalam sebuah kasus yang menuntut saya untuk mengambil sebuah keputusan etis. Saya masih memakai pola lama dalam melihat sebuah kasus dari satu prespektif saja, karena itu keputusan yang diambil masih ada di seputaran benar- salah. Saya belum punya kemampuan untuk membedah sebuah masalah apakah masuk dalam dalam kategori dilema etis ataukah bujukan moral. Pada akhirnya keputusan yang diambil hampir belum menjadi sebuah solusi yang bijak. Setelah mempelajari modul ini saya semakin paham langkah awal apa yang harus saya lakukan hingga di langkah akhir dalam mengambil sebuah keputusan yang bertanggungjawab.
Sebagai seorang individu modul 3.1 ini sangat penting karena modul ini seperti sebuah peta yang mengarahkan saya untuk berani melangkah dan menemukan keunikan-keunikan sampai pada akhir sebuah keputusan. Modul ini juga membentuk karakter diri , memotivasi dan menjadi spirit bagi diri saya sendiri. Sebagai pemimpin modul ini melatih saya untuk melihat sebuah persoalan secara komperhensif, menganalisis secara objektif dan secara kritis, membangun relevansi dan bagaimana mengambil keputusan secara bijak yang berpihak pada murid.
Demikian koneksi antar materi yang dapat saya buat, Sekian dan Terima kasih. Salam dan bahagia untuk kita semua bapak/ibu guru hebat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar