IMELDA KEFI,S.TH
Guru Mata Pelajaran PAK dan BP Pada SD NEGERI BILUA DESA OEBAKI KECAMATAN NOEBEBA KAB.TTS PROV.NTT
Selasa, 25 April 2023
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI- NILAI
KEBIJAKAN SEBAGAI PEMIMPIN Oleh CGP Angk. 7 Kab. TTS Prov. NTT Imelda Kefi SD
Negeri Bilua
Salam dan bahagia ibu Fasilitator dan teman-teman guru hebat....
Saya mengawali koneksi antar materi ini dengan kalimat bijak di bawah ini :
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”. Sekolah sebagai institusi moral memiliki peran untuk mendorong berkembangnya budaya,nilai dan moral setiap siswa.Hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa para murid terlebih dahulu memiliki dua kodrat yaitu kodrat alam dan kodrat zaman . Karena itu sebagai pemimpin dalam sekolah (kepala sekolah) memiliki peran dan tanggung jawab untuk mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang diambil seyogyanya bertitik tolak pada keberpihakan terhadap murid , nilai-nilai universal dan tanggung jawab. Ketika berhadapan dengan situasi dilema etis maka sebagai kepala sekolah diharapakan memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang akan berdampak pada kebaikan,ketaatan dan keteladanan semua warga warga.
“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia berperilaku etis”. Kalimat bijak ini memberi dasar,motivasi dan spirit bahwa tujuan pendidikan semata-mata tidak membentuk intelektual murid tetapi juga membentuk karakter moral dan etis . Tujuannnya agar supaya murid dapat memilah dan memilih saring dan sharing mana yang baik dan yang tidak baik, pantas atau tidak pantas untuk dilakukan.
Relevansi filosofi Ki Hajar Dewantara dan pratab Triloka bagi seorang pemimpin dalam penerapan pengambilan keputusan yaitu :
1. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran , guru harus pertama-tama berfokus pada kebutuhan murid bukan pada dirinya sendiri.
2. Dalam menghadapi masalah yang terkait dengan kebutuhan murid maka keputusan yang diambil sekalipun tetap harus berpihak pada murid
3. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus berdiri diatas nilai-nilai universal.
4. Setiap keputusan yang diambil harus mampu dipertanggungjawabkan baik secara etis moral amaupun secara kelembagaan.
Sebagai pemimpin pembelajaran harus ada dalam sebuah kesadaran bahwa dalam pengambilan sebuah keputusan tidak mudah seperti yang dibayangkan ada pertaruhan antara nila-nilai dalam diri dan nilai-nilai kebijakan universal. Karena itu sebagai pemimpin pembelajaran kejelian,ketepatan, analisis dan refleksi harus terbangun secara baik sehingga keputusan yang nantinya diambil akan bermuara pada prinsip dan nilai universal yang pada akhirnya dapat meminimalisir resiko negatif sebuah pengambilan keputusan.
Sangat disadari bahwa sebagai pemimpin pembelajaran mengambil sebuah keputusan tidaklah mudah, oleh karena ada konsekuensi-konsekuensi sekaligus pertanyaan-pertanyaan reflektif yang harus dilakukan secara kontinue. Untuk itu teknik coaching dengan menggunakan alur TIRTA sangat menolong karena di dalamnya pemimpin pembelajaran akan menemukan solusi atas sebuah keputusan etis yang telah diambil. Artinyan bahwa teknik coaching menolong pemimpin pembelajaran untuk tidak cepat merasa puas atas keputusan yang diambil.
Ketika seorang guru berhadapan dengan permasalahan dilema etis maka untuk menghasilakan sebuah keputusan yang bijak (berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal) ,berpihak pada murid dan bertanggungjawab, maka seorang guru sangat penting melatih bagaimana mengelola kondisi emosional diri sendiri (KSE). Dengan demikian KSE yang dimiliki oleh guru akan berimplikasi positif terhadap sosial emosional murid.
Sebagai pendidik harus paham bahwa dilema etis tersebut selalu terkait erat dengan masalah moral-etis. Karena itu dalam berhadapan dengan kasus moral –etis nilai kebajikan universal harus dimunculkan dari dalam diri seorang pendidik untuk dipakai dalam menganalisis sebuah kasus. Sehingga keputusan yang akan dihasilkan berdampak positif bagi warga sekolah. Seorang pemimpin pembelajaran harus yakin bahwa sebuah keputusan yang diambil secara tepat akan berkontribusi pada tercipta suasana ekosistem pembelajaran yang baik pula. Sebuah keputusan sebaik apapun tetap memiliki resiko yang didapat dari lingkungan sekitar, hal ini dikarenakan setiap keputusan yang diambil tidak mungkin dapat menjawab semua permasalahan sekaligus memenuhi kepuasaan atau harapan banyak orang pula. Perbedaan- perbedaan adalah faktor-faktor yang biasanya mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap sebuah keputusan.
Sebagai pemimpin pembelajaran harus menyadari bahwa setiap murid memiliki latar belakang yang berbeda. Karena itu dalam proses pengambilan keputusan mengenai pembelajaran di dalam kelas haruslah pembelajaran yang berfokus pada kemerdekaan murid dalam belajar. Hal ini dapat tercapai manakala pemimpin pembelajaran membuat proses pembelajaran berdiferensiasi yang diharapakan dapat menjawab kebutuhan belajar murid sehingga mereka menemukan iklim kemerdekaan dalam belajar. Masa depan para murid untuk mencapai cita-cita adalah proses yang harus dipersiapkan dengan matang. Apa yang diajarkan oleh seorang guru di awal akan menjadi modal (jaminan) terhadap pencapaian cita-cita seorang murid di masa depan. Artinya bahwa setiap pelajaran harus diarahkan sesuai dengan minat atau bakat (kebutuhan belajar) murid itu sendiri. Pada akhirnya para murid sejak awal telah terbekali dan terbentuk dengan ilmu yang sesuai karakter dirinya.
Bagi saya modul- modul yang telah dipelajari memiliki karakteristiknya tersendiri akan tetapi memiliki korelasi yang kuat antara satu dengan yang lain. Saya menemukan setiap materi dalam modul saling mengisi terhadap satu dengan yang lain. Memiliki kesinambungan yang pada akhirnya membentuk karakter kepemimpinan pemimpin pembelajaran baik itu dalam memetakan sebuah masalah, menganalisis, dan mengambil sebuah keputusan yang semuanya bermuara pada keberpihakan kepada murid. Bagi saya dengan mempelajari modul 3.1 ini sesungguhnya telah membuat saya menyadari bahwa ada kekeliruan dalam pengambilan keputusan yang pernah saya ambil sebelumnya. Modul ini telah memberikan kepada saya sebuah jalan untuk bagaimana sebuah keputusan itu dapat diambil secara bijak. Dalam pengalaman terdahulu saya pernah diperhadapkan dalam sebuah kasus yang menuntut saya untuk mengambil sebuah keputusan etis. Saya masih memakai pola lama dalam melihat sebuah kasus dari satu prespektif saja, karena itu keputusan yang diambil masih ada di seputaran benar- salah. Saya belum punya kemampuan untuk membedah sebuah masalah apakah masuk dalam dalam kategori dilema etis ataukah bujukan moral. Pada akhirnya keputusan yang diambil hampir belum menjadi sebuah solusi yang bijak. Setelah mempelajari modul ini saya semakin paham langkah awal apa yang harus saya lakukan hingga di langkah akhir dalam mengambil sebuah keputusan yang bertanggungjawab.
Sebagai seorang individu modul 3.1 ini sangat penting karena modul ini seperti sebuah peta yang mengarahkan saya untuk berani melangkah dan menemukan keunikan-keunikan sampai pada akhir sebuah keputusan. Modul ini juga membentuk karakter diri , memotivasi dan menjadi spirit bagi diri saya sendiri. Sebagai pemimpin modul ini melatih saya untuk melihat sebuah persoalan secara komperhensif, menganalisis secara objektif dan secara kritis, membangun relevansi dan bagaimana mengambil keputusan secara bijak yang berpihak pada murid.
Demikian koneksi antar materi yang dapat saya buat, Sekian dan Terima kasih. Salam dan bahagia untuk kita semua bapak/ibu guru hebat.
Rabu, 11 November 2020
Selasa, 10 November 2020
Artikel Ilmiah
GURUKU SAYANG, MAMAKU MALANG
(Sebuah catatan reflektif atas dampak pandemic covid 19/virus corona
terhadap proses Kegiatan Belajar Dari rumah/BDR)
Oleh: Imelda Kefi, S.Th
Soe - TTS Medio November 2020
Pengantar.
Sejatinya tidak seorang pun yang menghendaki pandemic covid 19/ virus corona terjadi. Bahkan membayangkannya saja adalah sebuah kemustahilan. Ibarat mimpi di siang bolong yang menjadi nyata dan nasi sudah menjadi bubur. Sejak muncul di Wuhan- Cina kini, virus Corona telah menyebar di 215 negara di belahan dunia dan Indonesia ada pada rengking 145, dengan total kasus terkonfirmasi sebanyak 50.144.990 (50,1 juta) kasus . Di Indonesia hampir seluruh wilayah telah terkonfirmasi penyebaran covid 19 dengan total kasus 55943 kasus . Diprediksi jumlah pasien covid 19 akan terus bertambah melalui berbagai cluster baru di tengah-tengah upaya pemerintah mempercepat penemuan dan penggunaan vaksin anti virus covid 19.
Dampak destruktif covid 19 sungguh tidak bisa dihindari. Tidak saja jutaan nyawa manusia menjadi taruhannya. Seluruh aspek vital hidup manusia lainnya pun diporak-porandakan oleh virus ini. Mulai dari aspek ekonomi, sosial, politik, seni-budaya, kesehatan, pendidikan, agama terkapar akibat hantaman badai mematikan ini. Boleh dikatakan bahwa, dunia menjadi lumpuh akibat pandemic covid 19, termasuk Indonesia. Kita bisa saja berkata, bahwa kita telah bosan dengan virus ini tetapi virus ini sepertinya tidak pernah bosan dengan kita. Baik di darat, laut dan udara hampir tidak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman - paling tidak untuk saat ini. Virus ini tidak pandang bulu. Di kota atau desa, orang kaya atau orang miskin, pejabat atau rakyat jelata, orang tua atau anak-anak, laki-laki atau perempuan bisa terdampak virus mematikan ini.
Sektor pendidikan menjadi salah satu yang terkena dampak buruk covid 19. Sungguh kita memang TIDAK bisa menghindari Air Bah ini. Jika di zaman Nuh ada Bahtera yang dapat dipakai agar bisa selamat, namun tidak dengan virus ini; sebuah sampan/perahu kecil pun kita tidak siap. Berbagai kebijakan strategi sektor pendidikan ditempuh dengan penuh pertimbangan yang sangat matang. Pro dan kontra tetap bermunculan. Mulai dari persoalan ketidakcermatan pemerintah dari tataran konsep(aturan), strategi, anggaran, segi teknis, sarana dan prasarana menjadi diskusi dan terkadang berubah menjadi debat kusir di ruang publik. Dengan berdiri teguh pada alasan utamanya adalah demi nyawa, demi kemanusiaan berbagai kemudahan disektor pendidikan terus digulirkan, sambil terus mencari resep yang tepat agar dunia pendidikan di Indonesia jangan sampai jatuh ke titik nadir. Salah satu diantaranya adalah BDR (Belajar Dari Rumah).
BDR (Belajar Dari Rumah) : Solusi jitu pembuka selubung kesadaran para orang tua.
Semboyan tiga serangkai yakni, Ibadah Dari Rumah, Belajar Dari Rumah Dan Kerja Dari Rumah menjadi trend dan style saat ini di tengah pandemic covid 19. Tiga saudara kembar yang lahir bersamaan ini dipandang dapat meminimalisir dampak buruk dari pandemic covid 19. Sekalipun tidak bertahan lama, gaya hidup new normal diproklamirkan sebagai upaya untuk bertanding gaya bebas dengan covid 19. Di beberapa tempat sekolah diliburkan, tetapi di tempat lain sekolah tetap berjalan dengan protap kesehatan covid 19 yang ketat. Semuanya sama-sama mengisahkan ceritera tersendiri. Ada yang penuh dengan drama heroik dari perjuangan para guru untuk menjangkau para murid dengan keterbatasan akses belajar secara daring. Tak kalah hebatnya para murid berupaya mencari sinyal (bermodal satu unit HP yang dipakai bersama teman) hanya untuk dapat mengerjakan soal yang kirim oleh para guru. Ada juga aksi dramatis yang sangat menggelitik dari para orang tua yang menjadi guru dadakan di rumah untuk mengajar anaknya sendiri. Dan masih banyak kisah inspiratif lainnya yang memberi makna hidup, bahwa pada satu sisi memang pandemic covid 19 sungguh berdampak buruk, namun pada sisi lain pandemic covid 19 melahirkan peradaban baru dengan cara berpikir yang baru pula, khususnya bagi para orang tua murid.
Ternyata menjadi guru itu tidaklah mudah.
Menjadi guru itu bukan sekedar sebuah pilihan, tetapi harus menjadi sebuah panggilan hati. Karena seluruh hidup seorang guru akan dipersembahkan untuk mendidik anak-anak, sekali pun itu bukan anak kandungnya sendiri. Demi anak –anak bangsa ini seorang guru akan rela menghadapi berbagai tantangan, kekurangan, ancaman dan berbagai resiko lainnya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa masih saja guru yang dilaporkan ke pihak berwajib hanya karena mencubit telinga muridnya. Ada juga guru yang dipukul oleh siswanya sendiri bahkan orang tua murid yang merasa marah karena anaknya dihukum oleh guru. Dan masih banyak kisah lainnya yang menggambarkan pengorbanan seorang guru.
Dengan sistem BDR (Belajar Dari Rumah), mau tidak mau, suka tidak suka, bisa atau tidak bisa orang harus menjadi guru. Di sinilah muncul sekelumit kisah pembuka tabir kesadaran bahwa, menjadi guru itu tidak mudah. Bagaimana tidak, sebelum pandemic covid 19 sebagai orang tua hanya tahu bahwa, anaknya pagi ke sekolah dan kemudian pulang ke rumah. Disamping memenuhi berbagai kebutuhan sekolah anak yang lainnya. Baginya, anaknya mau pintar atau tidak, semuanya ada di tangan seorang guru. Namun sekarang berbeda, karena pintar atau tidaknya seorang anak ada di tangan orang tuanya sendiri. Sebagian waktu orang tua yang selama ini dihabiskan pada urusan rumah tangga (domestik), kini ditambah lagi dengan menjadi guru bagi anaknya sendiri. Suatu kondisi yang jujur membuat para orang tua “lempar handuk” sebagai tanda menyerah; tidak mampu lagi alias KO!!
Belum lagi, ditambah dengan para orang tua yang rata-rata buta teknologi. Jangankan dalam pemakaian (penerapan aplikasi) sehari-hari yang tentu terasa sulit, memilikinya (alat:HP) saja adalah berat. Hal ini sebagai akibat dari dampak buruk/negative pandemic covid 19 pada aspek ekonomi. Mereka (orang tua) terpaksa dan dipaksa untuk memenuhi segala tuntutan sebagai syarat utama dalam menjawab proses BDR (Belajar Dari Rumah). Memang tidaklah semudah” membalikan telapak tangan”, tapi ya sudahlah! Para orang murid begitu stress. Di tempat-tempat tertentu ketika mereka bertemu, luapan stress mereka tumpah ruah. Tidak peduli tempatnya. Mau di pasar, tempat ibadah, pertemuan keluarga, tetangga samping rumah dan atau secara kebetulan berpapasan di jalan “diskusi jalanan tercipta”. Intinya hanya satu, nada stress berbalut harapan besar kepada Tuhan agar pandemic covid 19 segera berakhir, sehingga anak-anak mereka bisa kembali bersekolah seperti sedia kala. Seperti normal lagi.
Semakin jelas bahwa menjadi guru itu tidak mudah bukan? Tidak saja soal penguasaan ilmu dengan strata pendidikannya yang dibutuhkan dalam mendidik anak bangsa. Modal lain juga sangat penting seperti, skill, pengalaman, kesabaran dan keuletan. Lebih jauh lagi seorang guru dituntut untuk terus belajar berinovasi dan menguasai teknologi sesuai dengan tuntutan zaman. Seorang guru juga diajar umtuk memiliki sikap profesionalitas yang teruji dan terukur. Mentalitas yang tangguh sekuat baja, sehingga mampu berdiri sebagai pejuang tangguh dalam era globalisasi. Memiliki spiritualitas yang bisa diteladani. Semua ini adalah bekal yang harus siapkan oleh seorang guru untuk bisa menciptakan generasi milenial yang bisa bersaing di masa depan, serta melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang jujur, bersih, setia, menjadi teladan serta yang mampu membawa negeri kita adil , makmur dan sejahtera serta mampu bersaing di kancah dunia.
Ada lagi yang tidak boleh kita lupakan, bahwa pandemic covid 19 juga menuntut para guru untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuat. Aktifitas para guru yang sebelum pandemic covid 19 terjadi didalam ruang kelas (in class), kini berpindah ke luar kelas (out class). Bagi ssdaerah yang mengalami kesulitan dalam keterbatasan sarana dan prasarana akses internet, para guru harus memakai sisstem LURING (Luar Jaringan) atau “jemput bola”. Tantangan medan yang berat lagi berbahaya, akses jalan yang biasanya hanya dipakai untuk jalan hewan, semuanya itu ditempuh dengan berjalan kaki dengan spirit Honda GL Pro alias goyang lutut professional. Semangat tanpa kenal lelah dan putus asa yang dilakukan oleh para guru untuk menjangkau para murid di pedalaman dengan semangat dan mental petarung adalah dedikasi mereka yang tak ternilai bagi negara ini, khususnya dalam dunia pendidikan. Bagi mereka (para guru), jauh lebih penting anak didik mereka tetap mendapatkan pelajaran, sehingga tidak tertinggal dengan anak-anak lain yang tetap menikmati pelajaran sekolah melalui DARING (Dalam Jaringan), baik itu dengan system aplikasi zoom, goegle class room, atau pun WhatsApp (WA). Sungguh mulia dan tinggi luhur pengabdianmu guru. Jasamu memang tiada tara.
Hormatilah Gurumu!
Di Jepang guru sangat dihormati begitu tinggi. Orang Jepang, ketika bertemu dengan gurunya pasti akan membungkukkan badannya sampai setengah tinggi badan mereka sebagai tanda hormat mereka akan jasa seorang guru. Boleh jadi apa yang terjadi di Jepang lahir dari sebuah kesadaran spiritual dan cultural bahwa, sehebat dan secanggih apapun teknologi TIDAK bisa menggantikan peran seorang guru. Dari tangan seorang gurulah lahir orang-orang hebat yang memimpin dunia. Dari tangan dingin seorang gurulah lahir peradaban-peradaban baru. Sejarah memang tidak mampu menampung karya-arya ajaib dari tangan seorang guru. Bahkan sejarah TIDAK bisa membayar jasa seorang guru. Jasanya TIDAK bisa disejajarkan dengan peran yang lain. Jasanya TIDAK bisa bibalas ,sekalipun dengan emas dan perak. Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk membalas jasanya? Teruslah menghormati seorang guru. Siapapun dia. Dari mana asalnya, apapun agamanya, apapun rasnya. Tinggi atau pendek badannya.
Ada fakta berceritera lain. Begitu miris, karena masih saja guru yang menjadi korban kekerasan, baik secara fisik, psikis dan mental. Tidak berhenti sampai di sini saja. Kita juga menyaksikan lewat berbagai media (cetak/elektronik) bahwa ada guru yang diadukan ke meja hijau, gara-gara memukul murid yang nakal. Saya teringat saat dulu saya bersekolah. Memori masa sekolah itu tida terlupakan. Dipukul dengan mistar panjang jika tidak mengerjakan tugas atau prilaku kami dinilai melewati batas kesopanan dan kesusilaan. Berdiri dengan kaki satu di depan kelas, jika tidak mampu menjawab soal-soal dari guru. Dan masih banyak lagi kalau diceritakan. Namun semuanya itu tidak kami laporkan ke kepolisian, apalasgi membawanya ke meja hijau. Bahkan melaporkan ke orang tua sendiri saja kami takut, karena tentu akan mendapat hukuman yang lebih berat lagi. Kenapa? Karena perbuatan kami dinilai telah mempermalukan orang tua kami sendiri di depan guru dan teman-teman.
Sekarang jauh berbeda. Berbanding terbalik dengan masa lalu. Lihat saja, telinga murid dicubit saja, guru dilaporkan ke pihak berwajib dengan alasan HAM. Dampak negative yang timbulkan juga tidak main-main. Banyak anak tidak lagi menghormati gurunya sendiri, sekalipun berpapasan di jalan ditegur saja tidak. Seperti syair pantun ini : “kura-kura naik perahu, pura-pura tidak tahu. Miris, bukan? Kalau sudah begini apa yang akan terjadi dengan generasi kita di masa depan? Mau jadi apa generasi –generasi lembek seperti ini? Bagaimana dengan nasib bangsa kita di masa depan kalau kondisi itu tidak cepat ditolong/diselamatkan?
Ini juga tidak berarti bahwa semua tindakan guru di sekolah bisa dibenarkan. Beberapa kasus tidak senonoh dilakukan oleh oknum guru pernah terjadi di ruang publiks. Semua tahu itu! Karena itu ditelan bulat-bulat tanpa ada tindakan kritis konstruktif adalah sikap salah. Akan tetapi satu hal yang tidak boleh kita abaikan, bahwa mereka (guru) juga manusia biasa. Manusia debu-tanah. Mereka bisa saja khilaf. Mereka bisa saja jatuh dalam kelemahannya sendiri. Mereka bukan malaikat. Toh, malaikat saja bisa saja salah dan karena itu dihukum oleh Tuhan. Hanya saja cara kita harus persuasive. Jahui tindakan kekerasan dan anarkis yang sama sekali tidak akan menyelamatkan/memperbaiki keadaan, justru bisa sebaliknya. Karena itu lebih bijak serahkan ke pihak berwajib dan biar hukum yang menentukan salah dan benarnya, bukan anak murid, bukan pula orang tua, bukan juga massa. Paham ya!
Kitalah yang membutuhkan tangan seorang guru. Catatan reflektif.
Bisa jadi apa yang saya katakan ini tidak tepat atau bahkan tidak etis, namun layak untuk direnungkan. Bahwa pandemic covid 19 turut menyumbang hal-hal positif diberbagai segi kehidupan, termasuk di dalamnya dunia pendidikan kita. Mulai dari regulasi yang diperbaiki. Dana yang semakin banyak disiapkan untuk dimaksimalkan secara baik dan tepat sasaran. Sarana dan prasaran penunjang pendidikan ditambah, diperbaiki, diperbaharui dan diganti. Tidak ada yang menjadi guru, apa lagi maha guru. Semua kita adalah murid dan gurunya adalah Virus corona. Virus ini akhirnya memaksa para pemangku jabatan di dunia pendidikan untuk berpikir cerdas, bekerja dengan keras, cepat dan tepat. Para guru belajar berinovasi dengan membuat modul-modul pembelajaran yang kreatif dengan memakai berbagai teknologi aplikasi modern. Tidak kalah juga para orang tua, terpaksa dan dipaksa untuk menjadi guru privat bagi anaknya sendiri. Itulah yang terjadi saat ini. Sungguh menyenangkan tetapi sekaligus menegangkan. Menghawatirkan tetapi sekaligus menantang. Dialektika yang pasti berbuah manis. Entah kapan hal itu akan terjadi, hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti akan terjadi.
Belajar Dari Rumah (BDR) secara daring dan luring berdampak secara tidak langsung kepada para orang tua. Selama proses ini berlangsung sesungguhnya para orang tua kembali untuk belajar. Jika pada waktu normal masalah pendidikan anak diserahkan hampir 75% ke tangan bapak/ibu guru, dan orang tua selalu menghabiskan waktunya dalam mengurus rumah tangga, kini berubah. Orang tua membutuhan waktu dan tenaga ekstra untuk mendampingi anaknya dalam belajar. Mulai dari penguasaan materi sampai pada mengawasi anak dalam mengerjakan tugas. Tidak jarang para orang tua harus berupaya menjawab pertanyaan dari anak yang justru ia (orang tua) sendiri tidak tahu. Tapi inilah kenyataan yang harus diterima dan dimengerti. Pada tingkatan SMP dan SMA para orang tua harus lebih ketat lagi dalam pengawasan. Anak-anak lebih banyak bermain ketimbang belajar. Tingkat kesulitan para orang tua semakin terasa, apabila dalam keluarga terdapat semua jenjang sekolah. Tidak jarang para orang tua menjadi marah, bahkan mengalami stress yang luar biasa karena bergulat antara kerja di kantor, kerja di rumah (ibu rumah tangga) dan menjadi guru. Hmmmm?
Jujur saja bahwa kondisi ini tidaklah mudah. Tetapi pada titik inilah banyak orang di dorong masuk ke dalam ruang meditasi privat, bahwa bapak dan ibu guru memegang peranan yang sangat vital bagi dunia pendidikan anak-anak mereka. Peran guru sungguh tidak bisa dianggap sepele. Pandangan dengan sebelah mata yang pernah diarahkan kepada guru, saat ini berubah total. Guru adalah kunci yang dapat membuka gerbang masa depan anak-anak mereka semakin terasa dibutuhkan.
Kondisi lain yang penting untuk disimak adalah masih saja terdapat orang tua yang bersikap apatis terhadap pembelajaran anak-anak pada masa pandemic covid 19. Anak-anak dibiarkan bermain sampai lupa untuk mengerjakan tugas sekolah. Bahkan kondisi ini sedikit dimanfaatkan oleh sebagian orang tua untuk memanfaatkan anak mereka untuk mencari uang. Dengan cara berkebun, berjualan di pasar bahkan menjadi buru tukang. Alasan mereka (orang tua) terbilang sederhana, bahwa ada libur covid 19. Karena itu masa libur ini memang sengaja dipakai bekerja bersama anak. Semuanya boleh-boleh saja, asal orang tua tidak mengabaikan tugas seorang anak sebagai seorang murid.para orang tua mestinya sadar bahwa yang sekalipun libur tetapi banyak pula tugas yang harus dikerjakan oleh anak-anak mereka.
Sampai kapan virus corona ini akan berakhir? Tidak ada yang tahu. Hanya Tuhan sajalah yang maha mengetahui. Hanya Tuhan sajalah yang mampu mengakhiri drama hidup saat ini. Kita semua tentu tetap waspada. Mematuhi standar kesehatan covid 19 adalah langkah tepat yang harus terus kita lakukan bersama. Bersamaan dengan itu baik guru, para peserta didik dan orang harus terus bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Apapun kondisinya para guru tetaplah mempunyai tugas mulia untuk dikerjakan. Sayang sekali tugas ini terasa sulit untuk dipindahtangankan kepada orang lain. Semangat, dedikasi, loyalitas dan profesionalitas seorang guru saat ini di uji dan dipertaruhkan. Justru bagi saya, pada kondisi seperti ini terbentuk sebuah momentum pembuktian tentang tugas dan tanggung jawab seorang guru. Ini sebuah pilihan hati dan rasa. Akal dan keilmuan yang selama ini menjadi komponen pembentuk pribadi seorang guru.
Bagi para peserta didik inilah waktunya membentuk citra diri sebagai seorang pembelajar yang mandiri. Dan semuanya harus dimulai sekarang. Jangan ditunda lagi, karena para peserta didik akan kehilangan momentum pembentuk, yakni covid 19. Pandemic covid 19 ini mestinya juga dilihat dengan kaca mata positif. Perlihatkan semangat di masa mudamu. Karena sungguh masa mudamu tidak akan terulang. Buktikan siapa anda sebenarnya. Jangan jadikan kondisi ini untuk bermalas-malasan. Sebaliknya sebagai penyemangat dan pendorong untuk menjadi pribadi yang siap menyongsong masa depan. Bagi para orang tua murid sesungguhnya kita sementara belajar akan hal-hal baru yang bisa jadi tidak terulang. Ini kesempatan emas untuk kita (orang tua) berubah dalam cara pandang baru terhadap tugas dan tanggung jawab seorang guru. Sambil terus bekerja dengan keras demi pendidikan dan masa depan anak-anak kita. Tetaplah berdoa dan teruslah bekerja (ora et labora).
Rabu, 04 November 2020
RPP Materi Arti Hidup Beriman dan Berpengharapan
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
IDENTITAS
Sekolah : SMP Negeri Satu Atap Nefotes
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Kristen Dan Budi Pekerti
Kelas / semester : VIII /1
Materi Pokok : Arti sikap Hidup Beriman dan Berpengharapan
Pertemuan ke : 4
Alokasi waktu : 3 X 40 Menit
KKM : 72
A. Kompetensi Inti :
KI 1 Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
KI 2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleran, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
KI 3 Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
KI 4 Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang / teori
B. Kompetensi Dasar dan Indikator pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar Spiritual Indikator Pencapaian Kompetensi sikap spiritual
1.1 Mensyukuri makna hidup beriman dan berpengharapan 1.1.1.Menunjukkan rasa syukur hidup berpengharapan
Kompetensi dasar sikap sosial Indikator Pencapaian Sikap Sosial
2.1 Menunjukkan sikap hidup beriman dan berpengharapan dalam relasi dengan sesama 2.1.1.Mempraktekkan sikap hidup orang yang beriman dan berpengharapan
2.1.2.Memilih sikap hidup yang beriman dan berpengharapan
2.1.3.Menyatakan pendapat tentang 2 contoh perilaku hidup berpengharapan di tengah keputusasaan
Kompetensi Dasar Pengetahuan Indikator Pencapaian Kompetensi Pengetahuan
3.1 Memahami arti sikap hidup beriman dan berpengharapan 3.1.1.Menyebutkan sikap - sikap hidup berpengharapan
3.1.2. Menjelaskan makna hidup berpengharapan
Kompetensi Dasar Ketrampilan Indikator Pencapaian Kompetensi Ketrampilan
4.1 Menyajikan karya yang berkaitan dengan cara hidup beriman dan berpengharapan dalam bentuk tindakan nyata 4.1.1.Membuat komitmen hidup berpengharapan dalam bentuk karangan, slogan atau pun puisi.
C. Tujuan Pembelajaran:
Pertemuan ke empat :
Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintific dengan model discovery learning peserta didik dapat :
1. Menunjukkan rasa syukur hidup berpengharapan
2. Menampilkan 4 contoh perilaku hidup berpengharapan di tengah keputusasaan dalam menjalani hidup
3. Mengemukakan sikap- sikap hidup berpengharapan
4. Menjelaskan makna hidup berpengharapan
5. Membuat komitmen hidup berpengharapan dalam bentuk puisi, slogan ataupun karangan
D. Materi Pembelajaran
Materi : Arti Sikap Hidup Beriman dan Hidup berpengharapan
E. Metode Pembelajaran
Pendekatan : Saintific learning
Model Pembelajaran : Discovery Learning
Metode : Ceramah, tanya jawab dan diskusi
F. Kegiatan Pembelajaran.
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi
Waktu
Pendahuluan
Inti 1. Guru memberikan salam dan menanyakan keadaan siswa
2. Salah seorang peserta didik memimpin doa
3. Presensi ( mengecek kehadiran peserta didik)
4. Apersepsi
Menurutmu apa itu berpengharapan?
Mengapa orang kristen harus hidup berpengharapan?
Guru memperlihatkan gambar orang yang berpengharapan
5. Memberikan motivasi tentang manfaat mempelajari materi arti sikap hidup beriman dan berpengharapan .
6. Menyampaikan Kompetensi Dasar, IPK dan Tujuan Pembelajaran
1. a. Mengamati.
Mengamati sikap berpengharapan yang dilakukan oleh orang kristen.
Gambar 1 : orang yang Rajin berdoa.
Gambar 2 : Kesabaran.
Gambar 3 : Ketukunan.
Gambar 4 : Optimis.
b. Menanya : Apa yang diamati dan dipahami dari gambar di atas! Bagaimana sikap hidup berpengharapan?
c. Mengumpulkan data :
1. Peserta didik diajak berdiskusi dengan membaca cerita pendek tentang “ Uskup Agustinus”
KISAH HIDUP USKUP AGUSTINUS
Di kota Thagaste, Afrika Utara, tinggallah sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Sang ibu bernama Monika. Sang ayah bernama Patrisius, seorang pejabat tinggi di pemerintahan. Berbeda dengan sang ibu yang merupakan orang Kristen yang taat, sang ayah membenci kekristenan. Tak segan-segan ia mencemooh istrinya bila hendak mengajarkan iman Kristen kepada anakanaknya. Di bawah pengaruh buruk sang bapak, anak sulungnya hidup dalam pesta pora, foya-foya, dan pergaulan bebas. Walaupun sang ibu terus menasihatinya, anak itu tetap saja bandel. Melihat perilaku anak sulung itu, Monika tentu sangat sedih. Segala cara sudah ia coba untuk menyadarkannya. Namun, ia selalu gagal. Monika tidak putus asa. Dengan sabar, ia terus berusaha membimbing anaknya. Ia juga tidak pernah putus berdoa bagi anak dan suaminya. “Kiranya Tuhan yang mahabaik dan mahakasih, melindungi dan membimbing suami dan puteraku ke jalan yang benar dan dikehendaki-Nya,” demikian ia berdoa. Doa itu ia naikkan bertahun-tahun dengan tekun dan tabah .
Suatu hari Patrisius sakit keras. Sesaat sebelum meninggal dunia, ia bertobat dan meminta agar dibaptis. Sayangnya, hal tersebut tidak membuat anak tertuanya berubah. Ia tetap hidup dalam dunia kelam, tidak mau bertobat dan terus menyakiti hati ibunya. Hingga suatu saat sang anak memutuskan untuk meninggalkan ibunya dan pergi ke Italia. Hati Monika benar-benar hancur. Ia begitu sedih harus berpisah dari anaknya. Apalagi di usianya yang ke-29 tahun, anaknya itu belum berubah. Namun Monika tidak kehilangan pengharapan. Ia terus mendoakan anaknya. Saat itu pun tiba. Di Italia, tepatnya di kota Milan, sang anak bertemu dengan Uskup Ambrosius yang kemudian membimbingnya secara pribadi. Akhirnya tepat pada 24 April tahun 387, doa Ibu Monika yang dinaikkan lebih dari 20 tahun itu terjawab. Hari itu, anaknya memberikan diri untuk dibaptis, memutuskan untuk hidup baru, dan bertobat untuk kemudian meninggalkan dosa-dosanya.
Tujuh bulan kemudian, sang anak kembali ke Afrika Utara dan kemudian menjadi Uskup di Hippo pada usia 41 tahun. Sang anak adalah Agustinus, yang kemudian dikenal sebagai seorang Bapa Gereja yang disegani dan dihormati. Seorang yang kemudian sangat berpengaruh dalam sejarah gereja. Terima kasih kepada Ibu Monika, yang tidak pernah kehilangan pengharapan dan tak sekalipun putus asa untuk mendoakan anaknya. Pengharapan yang mengubah hal yang sebelumnya mustahil menjadi kenyataan.
2. Peserta didik mengamati sikap- sikap hidup yang ditunjukkan oleh 3 tokoh yaitu Monika ,Patrisius dan Asgustinus dan menentukan tokoh manakah yang hidupnya berpengharapan dengan cara bertekun dalam doa,sabar,tabah dan selalu optimis
3. Peserta didik bertanya jawab sikap berpengharapan yang patut diteladani dalam cerita tersebut
4. Peserta didik bertanya jawab tentang makna hidup
berpengharapan
5. Peserta didik bertanya jawab tentang sikap yang harus dilakukan orang kristen yang berpengharapan dalam hidup.
6. Peserta didik diajak untuk dapat menyebutkan 4 contoh sikap berpengharapan yang dilakukan olehnya saat menghadapi keputusasaan
7. Peserta didik diajak untuk mengemukakan tentang ciri- ciri hidup berpengharapan
8. Hasil diskusinya dipresentasikan di depan kelas
d. Mengasosiasi :
1. Peserta didik diajak untuk mendalami firman Tuhan dalam Kitab Ibrani 6:9 dan memberikan pemahaman tentang pengharapan
e. Mengkomunikasikan
1. Peserta didik membuat komitmen hidup berpengharapan ( bisa berupa doa, karangan , puisi ataupun slogan) 10 menit
90 menit
Penutup 1. Bagaimana perasaanmu ketika mengikuti materi hari ini ?
2. Bersama-sama dengan peserta didik membuat simpulan / rangkuman hasil belajar.
3. Memberikan pertanyaan sebagai umpan balik :
“Apa yang kalian pelajari dari materi hari ini? Seandainya kalian itu Simeon dan Monika apa yang akan kamu lakukan untuk terus berpengharapan sekalipun jawaban Tuhan diperoleh dalam jangka waktu yang lama?”
4. Menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan minggu depan
5. Mengajak semua siswa berdoa untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran. 20 menit
G. Penilian Pembelajaran , Remidial Dan Pengayaan
1. Penilian Sikap Spiritual
a. Teknik Penilian : Observasi
b. Bentuk Instrumen : Lembar observasi
c. Kisi- kisi
Berilah tanda “centang” (√) yang sesuai dengan kebiasaan kamu terhadap pernyataan-pernyataan yang tersedia!
No Nama Siswa Pernyataan Kebiasaan
Selalu Sering Jarang Tidak Pernah
Skor 4 Skor 3 Skor 2 Skor 1
1 Yoda Tefnai Rajin Berdoa pagi
Rajin berdoa malam
Rajin berdoa saat belajar
Sabar
Tabah
2. Sikap Sosial
a. Teknik Penilaian : Penilian sejawat ( antar teman)
b. Bentuk Instrumen : Daftar pertanyaan
c. Kisi- kisi :
No Sikap / Nilai Butir Instrumen
1. Kerjasama Senantiasa rajin berdoa , tabah , tekun dan optimis
2. Disiplin / tanggung jawab Berdoa saat makan, tidur dan mulai belajar
Berperilaku yang sabar, tekun dan optimis dalam hidup
3. Pengetahuan
a. Teknik : Tes tertulis
b. Bentuk Instrumen : Uraian
No Indikator Soal Butir Instrumen
1 Mengidentifikasi sikap dari 3 tokoh dalam cerita uskup Agustinus Sebutkanlah sikap dari 3 tokoh dalam cerita uskup Agustinus !
Interval nilai Pengetahuan :
No Nama Siswa Nama Tokoh Menyebutkan
3 sikap 2 sikap 1 sikap
30 20 10
1 Yoda Tefnai Monika
Patrisius
Agustinus
2 Yudith Mnune Monika
Patrisius
Agustinus
Penilaian Diskusi
No Indikator Soal Butir instrumen
1 Menyebutkan 4 sikap hidup berpengharapan di tengah keputus asaan Sebutkanlah 4 sikap hidup berpengharapan di tengah keputus asaan
Aspek dan rubrik penilaian:
1. Kejelasan dan ke dalaman informasi
(a) Jika kelompok tersebut dapat memberikan kejelasan dan ke dalaman informasi lengkap dan sempurna, skor 100.
(b) Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan ke dalaman informasi lengkap dan kurang sempurna, skor 75.
(c) Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan ke dalaman informasi kurang lengkap, skor 50.
(d) Jika kelompok tersebut tidak dapat memberikan penjelasan dan ke dalaman informasi, skor 25.
No. Nama Peserta didik Aspek yang Dinilai Jumlah Skor Nilai Ketuntasan Tindak Lanjut
Kejelasan dan Kedalaman Informasi T TT R R
1
2
3
4
5
1) Keaktifan dalam diskusi
(a) Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi, skor 100.
(b) Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi, skor 75.
(c) Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi, skor 50.
(d) Jika kelompok tersebut tidak aktif dalam diskusi, skor 25.
No. Nama Peserta didik Aspek yang Dinilai Jumlah Skor Nilai Ketuntasan Tindak Lanjut
Keaktifan dalam Diskusi T TT R R
1
2
3
4
5
6
2) Kejelasan dan kerapian presentasi
(a) Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan rapi, skor 100.
(b) Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan rapi, skor 75.
(c) Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan/resume dengan sangat jelas dan kurang rapi, skor 50.
(d) Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan/resume dengan kurang jelas dan tidak rapi, skor 25.
No. Nama Peserta didik
Kelompok 1 Aspek yang Dinilai Jumlah Skor Nilai Ketuntasan Tindak Lanjut
Kejelasan dan Kerapian Presentasi T TT TR R
1 Yoda tefnai 80 80
2 Yudith Mnune 80 80
3 Eliaser Mnune 80 80
4 Sipri Balan 80 80
5 Mega Tuwan 80 80
6 Nirmawati Leob 80 80
7 Marselo Kase 80 80
No Indikator Soal Butir Instrumen
1 Membuat komitmen hidup berpengharapan dalam bentuk karangan, puisi ataupun slogan Buatlah komitmen hidup berpengharapan dalam bentuk karangan, puisi ataupun slogan
NO Aspek Yang Dinilai Skor Jumlah
1 2 3 4
1. Kesesuaian dengan tema
2 Penulisan Ejaan ( titik dan tanda koma)
3. Penulisan Huruf Kapital
4 Kerapihan Tulisan
No Indikator soal Butir Instrumen
1 Menuliskan Mazmur pasal 119 dengan memilih satu ayat yang berkaitan dengan hidup berpengharapan kemudian menuliskan isi ayat tersebut dengan kata- katanya sendiri.
Tulislah Mazmur pasal 119 dengan memilih satu ayat yang berkaitan dengan hidup berpengharapan kemudian menuliskan isi ayat tersebut dengan kata- kata sendiri.
Rubrik Penilaian :
No Nama Siswa Skor Jumlah
skor
Kemampuan memahami ayat mazmur 119 yang dipilih sesuai atau tidak dengan hidup berpengharapan
(30) Memakai kalimat yang sesuai dengan maksud ayat
(30) Pesan yang tersampaikan dari tulisan tersebut
(40)
1 Yoda Tefnai 30 30 30 90
2 Yudith Mnune 20 20 20 60
3 Eliaser Mnune 20 20 20 60
Teknik : Lisan
Kisi- kisi
No Indikator Soal Butir instrumen
1. Menjelaskan sikap yang dilakukan jika menjadi Simeon dan Monika ! Seandainya kalian itu Simeon dan Monika apa yang akan kamu lakukan untuk terus berpengharapan sekalipun jawaban Tuhan diperoleh dalam jangka waktu yang lama?”
Rubrik Penilain membuat doa,karangan, puisi ataupun slogan :
No Nama Siswa Kesesuian dengan tema
Penulisan Ejaan yang benar
Penulisan huruf kapital
Kerapihan tulisan
Jumlah Nilai
5 5 5 5
1. Yoda Tefnai 5 4 4 4 17 85
Rumus : Jumlah skor benar/ jumlah skor sebenarnyaX 100 = Nilai
Program Remidi dan pengayaan
a. Program Remidial
Sekolah : ........................
Kelas/Semester : ........................
Mat Pelajaran : ........................
Ulangan Harian Ke : ........................
Tanggal Ulangan Harian : ........................
Bentuk Ulangan Harian : ........................
Materi Ulangan Harian : ........................
(KD/Indikator : ........................
KKM : .......................
No Nama Peserta Didik Nilai Ulangan Indikator yang Belum Dikuasai Bentuk Tindakan Remedial Nilai Setelah Remedial Ket.
1
2
3
4
dst,
b. Pengayaan
Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik yang sudah menguasai materi sebelum waktu yang telah ditentukan, diminta untuk soal-soal pengayaan berupa pertanyaan-pertanyaan yang lebih fenomenal dan inovatif atau aktivitas lain yang relevan dengan topik pembelajaran. Dalam kegiatan ini, guru dapat mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan.
H. Media , Alat , Bahan dan Sumber Belajar
Media : Papan tulis dan spidol dan LCD dan Gambar
Alat : Papan tulis, spidol dan LCD
Bahan : LKPD
Sumber belajar : Buku Guru dan buku siswa kelas 8 revisi 2017 Yethie Bessie, S.Th dan Margiot Tua Butarbutar, Alkitab dan Artikel kisah hidup uskup Agustinus.
Mengetahui
Kepala Sekolah,
Hendra J.D.Sa’u,S.Pd,Gr
NIP. 19850609200903 1 005 Nefotes, 27 Oktober 2020
Guru Mata Pelajaran
Imelda Kefi, S,Th
NIP.-
Langganan:
Komentar (Atom)